Rabu, 23 Maret 2016

fanfic first: The first love is irreplaceable

CHAPTER 2
 (08:00pm) aku bosan berada dirumah aku segera bergegas untuk pergi keluar karna kakakku juga sedang pergi jadi aku memutuskan untuk pergi ke club malam yang biasa kudatangi. Sesampainya disana aku memesan minuman, selang waktu berlalu sudah 3 jam aku disana aku pulang dengan keadaan mabuk berat sampai-sampai aku kesusahan menuju mobilku. Aku tergeletak tak sanggup meneruskan langkahku tetapi seseorang menolongku dang menggendongku samar-samar aku melihat kearahnya tidak jelas semakin buram dan gelap.
(07:35am)
 “Armrmmmmm dimana aku, rumah siapa ini?”
 suara langkah mendekat dan masuk kedalam kamar yang entah kamar siapa ini KREKKKK “morning kau sudah bangun nona pemabuk”
 “HHHAHHHHHH kau”
‘pria yang menolongku adalah won woo lalu apa aku ada dirumahnya’ batinku.
            Kringngngngngng (suara ponsel berbunyi)
 “omo, oppa eothokae”
 terpapang di layar ponselku 30 telfon tak terjawab.
“dimana anak ini apa dia ada dalam masalah atau dia sedang ada urusan, tetapi setidaknya dia mengabariku, aaaaish dimana kau jawab ponselku”
 “hallo kak”
 “dimana kau in? sekarang apa yang terjadi padamu? apa kau baik-baik saja?  kenapa tidak mengangkat telfonku, kenapa kau pergi tanpa memberitahuku, kenapa kau tidak pulang semalaman, apa kau ada masalah, hallo dimana kau apa perlu aku jemput?”
 “kakak hentikan kumohon, aku baik-baik saja aku sedang bersama temanku kakak tidak usah mengkhawatirkanku aku akan pulang sebentar lagi”
 “benarkah aku akan menunggumu”
“arasseo”
 Aku terdiam sesaat setelah telfon tertutup aku langsung memandangi won woo.
 “apa yang terjadi tadi malam, lalu bagai mana aku bisa berada disini, kita tidak melakukan hal-hal yang diluar kesadarankukan?”
“apa yang kau bicarakan kau disini karna aku menolongmu saat kau keluar dari club itu dan kau dalam keadaan mabuk berat lalu aku membawamu dengan mobilmu tetapi aku tidak tahu rumahmu jadi aku bawa kau kerumahku dan jangan khawatir aku adalah pria yang baik jadi jangan berfikiran yang aneh-aneh”.
“ahh sukurlah”
“tetapi apakah kau mengharapkan hal-hal itu”
Won woo menyodorkan wajahnya sehingga jarak antara wajah kami hanya beberapa senti saja.
“apa yang kau lakukan?”
“apakah kau menginginkan hal yang sekarang ada dipikiranmu itu?”
Aku mendorong Won woo. Won woopun tertawa geli melihat reasiku dan mungkin mukaku memerah sekarang.
            Selepas dari rumah won woo aku bergegas pulang dan di perjalanan aku berfikir bahwa ini bukan hari libur itu artinya aku membolos dan won woo juga membolos demi menemaniku
“wah anak itu benar benar”
 “aku pulang”
sampai juga dirumah aku langsung dihadapkan dengan kakakku yang langsung memelukku dan mengusap wajahku serta menelitiku bak seorang satpam.
“kau tidak apa-apa? apa yang terjadi?”
 “aku bosan, aku pergi ke club dan aku mabuk, aku menginap ditempat temanku, lalu aku pulang itulah yang terjadi”
 “kau ini lainkali bilang padaku setidaknya aku tidak sekhawatir ini arayo”
 “ne arayo”
 Aku menuju kamar, mandi dan segera turun untuk makan karena aku sangat lapar, padahal tadi won woo sudah menyiapkan makan untukku tetapi aku hanya minum dan memakan satu sendok saja itupun untuk menghargainya karena telah membuatkan makanan untukku, tetapi makanan buatannya sangatlah lezat sayang aku tidak menghabiskannya tadi.
            “kau kenapa kakak lihat ada yang sedang kau pikirkan”
 kakak tiba-tiba berada dihadapanku
 “ahhhh tidak ada”
 “benarkah”
 Aku menjawab dengan anggukkan lalu kakakku berpamitan dan pergi untuk menyapa pekerjaan yang telah menanti dikantor.
Walau aku tahu bahwa kakakku sangatlah sayang terhadapku tetapi terkadang aku mengira kakakku terlalu posesif terhadapku aku seperti telur yang rapuh dan harus ia jaga sebaik mungkin agar tidak pecah, tetapi aku tahu sikap kakak seperti itu karena hanya aku yang dia punya saat ini karena orangtua kami telah pergi untuk selamanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar