Sabtu, 26 Maret 2016

fanfic first: The first love is irreplaceable

CHAPTER 6
(07:35 PARIS)
Aku berpisah dengan kakakku yang telah mengantar kepergianku kemarin pagi dan aku juga melihat Won woo yang juga mengantarku. Aku sudah bertannya kepada Won woo saat itu
“apa kau tidah bisa ikut?”
“aniyo chagi, aku tetap disini lagi pula ini adalah acara untuk kelas 11 jadi aku tidak akn ikut”
Jawaban Won woo tidaklah sesuai harapanku.
Sesampainya di hotel kami disambut dengan para kariawan dan juga menejer hotel kami yang ramah. Semua teman-teman ku terkesan akan STAR HOTEL yang mewah, elegan, dengan pegawai yang sangat ramah. Memang STAR HOTEL berdiri di atas lahan seluas 4 hektar dan mempunyai fasilitas area bermain golf, taman luas, resto, kolam renang, bahkan pemandian air panas.
Selama kami berada diparis kita melakukan tour di seluruh area pariwisata di paris yang sangat terkenal, kami bersenang-sanang selama diparis tetapi hati terasa kosong dan rindu.
Ini sudah hari ketiga dan aku hanya berkomunikasi melalui ponsel dengan Won woo tetapi entah seharian ini kami tidak berkomunikasi.
Agenda hari ini kami pergi ke pusat sejarah di paris tetapi rasanya aku tidak terlalu tertarik sehingga aku hanya mengikuti langkah kaki tanpa tahu acuan dan tujuannya.
(08:45 PARIS)
Aku menatap datar layar ponsel yang kosong tanpa ada pesan dan panggilan dari Won woo sebelum tiba-tiba ponsel ku berdering tanda adanya pesan masuk. Aku membuka pesan itu dan di dalam pesan tersebut tertulis
Kau dimana MY ANGEL aku datang
Serontak aku tersenyum bahagia, dia, dia datang menemuiku sampai ke paris, rasanya seperti mimpi aku akan bertemu dengannya. Aku ketikkan pesan balasan yang member tahunya bahwa aku berada di kamar 304 lantai 8.
Terdengar suara ketukan, aku segera membuka pintu kamar dan melihat sesosok lelaki yang sedang aku tunggu kedatangannya.
Won woo datang dengan membawa seikat bunga dan juga wine di tangannya. Aku sangat senang dan terkejut, dengan senyum dan wajah ceria aku mennyambut Won woo disertai pelukan hangat. Won woo masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamar. Won woo meletakkan bunga dan wine dimeja seraya langsung memelukku dengan erat.
“chagi aku sangat merindukanmu, sangat”
“aku juga oppa”
Won woo mengendurkan pelukannya dan memegang wajahku dengan lembut. Won woo mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku, setelah itu dia tersenyum dan mengambil gelas serta menuangkan wine. Kami meneguk wine sampai tandas isi gelas. Kami berbaring di tempat tidur sambil berpelukan dan Won woopun membelai dan memainkan rambutku.
“saranghaeyo chagi”
“nado saranghae oppa”
Won woo mencium bibirku dengan lembut sembari melumat bibirku dan itu membuat kami terasa semakin terhanyut dalam suasana.
Didalam posisi dimana Won woo berada tepat diatas tubuhku ia terus melumat bibirku sembari tangan kirinya membelai rambutku dan tangan kanannya mulai membuka kancing bajuku dan dengan cepat aku menyadarinya dan akupun menahan tangan kanan Won woo yang telah membuka tiga kancing bajuku, serontak aku menghentikannya untuk melumat bibirku.
Aku segera menghindar dan beranjak dari tempat tidur sebelum aku beranjak pergi tanganku tertahan oleh genggaman Won woo yang dengan cepat menarikku kembali.
Aku berada tepat di atas tubuh Won woo dan aku menatapnya sekilas, saat aku ingin beranjak untuk kedua kalinya Won woo dengan cepat membalikkan posisi kami menjadi Won woo yang berada diatas ku.
Aku menatap Won woo dengan datar walau Won woo mencoba untuk mendekatkan wajahnya ke wajahku tetapi aku menahannya dan berusaha untuk menghindar. Won woo menahan pergerakanku.
“ mianhae chagi, seharusnya aku tidak melakukan ini”
Won woo kembali memegang kancing bajuku dan serontak aku mencegahnya.
“aniyo oppa”
Aku berteriak di depan mukanya yang langsung menahan bibirku dengan jari telunjuknya. Aku terdiam dan ternyata Won woo hanya membenahi kancing bajuku yang tadi terbuka karenanya.
Won woo memegang tangan kananku dan memelukku dan kami melalui malam dengan saling berpegangan satu sama lain seraya enggan untuk dipisahkan.
{Aku memang sangat mencintaimu tetapi bukan berarti aku akan menyerahkan hal paling berharga dalam diriku karena aku ingin menjaganya sampai kau benar-benar menjadi milikku} batinku sambil tersenyum melihat Won woo tertidur disampingku dengan muka tersenyum.
“anyeong chagi, mari makan bersama aku telah memasak untuk mu”
Kamsahamnida chagi”
Won woo beranjak menuju meja makan, kami makan bersama sembari menyuapi satu sama lain.
“Chal meogeossoyo”
Setelah makan aku dan Won woo meminta izin pada kepala panitua untuk pergi tanpa mengikuti acara yang akan diadakan hari ini.
Kami pergi kesebuah mall terbesar di paris, kabi berbelanja, bermain dan bersenang-senang.
Hari menjelang sore, aku mengajak Won woo ke menara aifel dan kami menghabiskan waktu kami hingga matahari tenggelam sepenuhnya dan peneranganpun menyala menghiasi sekeliling taman dan juga menara.
“chagi, aku sangat merindukanu, sangat”
Won woo memelukku dari belakang dan meletekkan kepalanya dibahu kananku, dia memejamkan matanya dan menenggelamkan kepalanya diantara bahu dan leherku.
Senyuman merekah di bibirku, aku membalas pelukan Won woo dengan memegang tangannya yang melingkar di perutku yang datar.
Selama satu minggu sudah kami berada di paris dan akhirnya kami akan pulang ke korea, tetapi aku dan Won woo tidak ikut serta kedalam keberangkatan rombongan untuk kembali.
Won woo mengajak ku untuk kembali bersama menggunakan jet pribadi yang telah ia siapkan. Didalam perjalanan Won woo terus memelukku erat seperti tak mau kehilanganku tetapi aku merasa sepertinya ada hal yang ia sembunyikan.
“Mianhaeyo chagi, saranghae”
“ada apa denganmu? Apa ada masalah?”
“aniyo”

Sesampainya di rumah Won woo langsung berpamitan dan dengan senyuman kecil di sudut bibirnya ia berlalu walau ia terlihat seperti bukan Won woo yang ku kenal. Won woo menjadi pemurung jarang aku lihat senyum lepas yang biasa menghiasi wajahnya tampannya itu dan itu membuatku merasa aneh sejak kami berada di paris waktu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar