Senin, 28 Maret 2016

fanfic first: The first love is irreplaceable

CHAPTER 7
Aku mengawali sekolah setelah tour itu. Sepanjang pelajaran aku tidak melihat Won woo walaupun kami tidak sekelas biasanya Won woo selalu menantiku di depan kelas setelah bel berbunnyi, tetapi saat istirahatpun aku tidak melihat lelaki itu.
Sepulang sekolah aku teringat tempat yang suka didatangi oleh Won woo, aku mencoba menuju kesana dengan harapan aku dapat menemukan pujaan ku disana. Benar, Won woo benar-benar ada ditempat ini, dia menghadap ke jendela dan dengan tatapan kosong dan air mata yang membasahi pipinya.
“wae, apa yang terjadi?”
“aah chagi “
Won woo terkejut melihatku dan dengan cepat ia menghapus air matanya dan mengarah kepadaku.
Won woo lagi-lagi memeluku, tetapi ia terus terisak di dalam pelukanku. Aku mencoba menenangkan Won woo dan menempatkannya di sofa sembari aku memberinya sebotol air untuknya.
Won woo meletakkan botol itu tanpa meminumnya ia langsung memelukku dengan erat aku membalas pelukannya tetapi aku semakin heran kenapa ia menangis bahkan saat ku tannya ia tidak mau menjawabku. Ada apa sebenarnya dengan namjaku ini.
Keesokan harinya aku kembali bersekolah dan berharap untuk tidak lagi melihat raut wajah Won woo yang seperti itu lagi.
Sesampainya di kelas aku menyempatkan diriku untuk menuju kelasnya dan menemuinya, tetapi aku sama sekali tidak menemukannya, aku bertannya pada Min Gyu dan ternyata ia sedang sakit dan tidak bisa sekolah hari ini.
Aku langsung menuju keluar dan pergi dari sekolah karena kekwatiranku pada Won woo.
“ya, kau baik-baik saja?”
Aku masuk kekamar Won woo dengan perasaan yang panic dan melihatnya sedang berbaring di atas ranjangnya dan terlihat baik-baik saja tetapi ia terlihat begitu frustasi dan menderita.
“apa yang terjadi? Kenapa kau seperti ini?”
Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Won woo terbangun dan duduk persis dihadapanku dan lagi-lagi ia memelukku sambil menangis tanpa menjawab pertanyaanku. Aku melepas pelukannyanya dan memegangi wajahnya dengan kedua tangan ku dan mencoba menepiskan air matanya dengan jari tangan ku.
“ada apa? Ceritakanlah padaku”
“kenapa kau tidak masuk sekolah dan malah datang kesini?”
“kau ini aku datang karena mencemaskan mu tetapi kau malah menannyakan hal yang tidak penting, aku menghawatirkanmu”
“gomawo, aku senang kau berada disini untukku”
Won woo melepaskan tanganku dari wajahnya dan memegang tanganku erat-erat serta mencium dahiku dengan lembut.
“saranghae, dan terimakasih telah datang kemari, kau kemari pasti karena kau merindukanku bukan? Kau mencintaiku.”
“aish kau dini benar-benar, ahh baiklah, ya benar aku merindukanmu, benar aku mencintaimu bahkan terlalu mencintaimu puas.”
Won woo terseyum lebar menggodaku dan kurasa wajahku telah memerah karnanya.
Won woo mencium dan melumat bibirku dan akupun membalas lumatanya itu. Won woo mwndorong perlahan tubuhku tanpa ku sadari aku telah terpojok antara sandaran tempat tidur dan tubuhnya.
Dia semakin erat memelukku dan akupun semakin erat memegangi tangan kekarnya itu dan akhirnya ia mengakhirinya dan memelukku dengan lembut.
“saranghae chagi.”
“nado seranghae chagi”
Won woo tersenyum dan memandangiku untuk beberapa saat sebelum ia beranjak dari kamar. Ia kembali membawakan segelas minuman untuku, aku meminumnya dan meletakkannya di atas meja.
Won woo menarikku dan menggandengku keluar menuju taman di halaman belakang rumahnya. Aku duduk di bawah satu pohon yang rindang sedangkan Won woo meletakkan kepalanya di pangkuanku dan memejamkan matanya.
Wajah Won woo terlihat seperti orang yang sangat tenang dan sejuk, aku membelai rambutnya dengan lembut dan kudekatkan wajahku dan mengecup bibirnya dengan lembut, sekilas aku menjauhkan kembali wajahku. Won woo menarik tanganku sambil tetap memejamkan matanya.
“kenapa kau menjauhkannya chagi”
“aniyo, tidak ada apa-apa hanyan ingin mengecupnya sekilas saja”
“mengapa hanya sekilas?”
“mengmangnya kenapa?”
“aku menginginkannya lagi dan baru pertama kali kau memulainya terlebih dahulu”
“aish anak ini”
Aku langsung memalingkan wajahku dan melepaskan tangannya yang menahan tanganku dan menariknya sampai aku tertunduk dengan wajah yang sangat dekat dengan wajahnya.
“berikan lagi”
“apa maksudmu berikan lagi?”
“berikan sesuatu seperti tadi lagi”
“shireo”
Tetapi tatapanku dan tatapannya terlalu kuat. Kami termenung sejenak dan hanya deruan nafasnya di wajahku yang kurasakan serta debaran jantung yang memuncak.
Won woo menutup matanya dan akupun melakukan apa yang Won woo pinta. Bibirkami bersentuhan dan kulumat bibirnya, Won woopun membalas lumatanku.
Entah sejak kapan aku merasa yang ku lakukan ini mulai menjadi sesuatu hal yang memanas. Kami terus melakukan itu dan mungkin tak ingin terpisah.
Tangan Won woo memegang erat tangan kananku yang sedang memegangi wajahnya untuk mencegah hal ini berakhir. Tangan kiriku mengacak-acak rambut Won woo perlahann dan entah kapan hal ini akan berakhir karena semakin lama semakin aku rasakan hasrat yang mulai meningkat.

Akhirnya aku menghentikannya dan mulai menjauhkan wajahku. Seyum merekah di bibir Won woo ia mengusap bibirku dengan ibu jarinya dengan lembut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar